IKLAN

Iklan
Showing posts with label JURNAL. Show all posts
Showing posts with label JURNAL. Show all posts

Monday, February 5, 2018

Tutorial Mengolah Data Quisioner (Angket) Dengan M. Excel dan SPSS

Asalamu’alaikum wr wb.

  Sehat selalu buat sahabat, kali ini saya akan menjelaskan tentang cara mengolah data Quisioner (Angket) dengan Excel dan SPSS. Supaya nanti ke depannya, kalian apabila ada tugas kampus/ skripsi bias berguna dan lebih gampang mengerjakannya.
 Sahabat, sebelum berlanjut lebih jauh kita perlu mengetahui apa itu Quisioner (Angket) agar ketika ditanya oleh orang bisa paham dan lebih mudah menjawabnya.
   Angket (Kuesioner)
                Adalah pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan/ respon atau menjawab atas pertanyaan –pertanyaan yang diajukan.  Untuk dapat menggunakan teknik ini di syaratkan reseponden harus memiliki tingkat pendidikan yang memadai.
Jadi, ketika kalian mengumpulkan data harus ada Responden / orang yang bias menjawab pertanyaan anda.
Di sini saya memberikan 5 pertanyaan kepada 30 Responden.
1.       Setuju (5 poin)
2.      Sangat Setuju  (4 poin)
3.      Kurang setuju (3 poin)
4.      Tidak setuju (2 poin)
5.      Sangat Tidak Setuju (1 poin)
Kalau sudah ditentukan, kalian tinggal memasukan data tersebut secara manual ke dalam M. excel sebelum melakukan penghitungan melalui SPSS. Karena, biar gampang apakah nilai tersebut Valid / tidak valid.
1.      Menghitung Menggunakan M. Excel
M. excel, sebuah perangkat yang dimiliki oleh laptop untuk menghitung dan mengolah data agar lebih mudah.

Pertama, Buka Aplikasi Microsoft Excel, baik 2007, 2008,2010, 2013 atau 2016.
Doc. Pibadi.
Lalu Klik OK.
Nanti akan muncul jendela seperti di bawah ini:
Doc. Pribadi
Lalu anda masukan semua data yang telah didapatkan secara manual ke dalam Microsoft Excel.
Bias di lihat seperti di bawah ini :
Doc. Pribadi

 Di situ anda bias menuliskan
1.      Responden = Tulis dari 1-30 (untuk jumlah orang yang anda beri pertanyaan)
2.      X1 = itu untuk pertanyaan ke Satu
3.      X2 = untuk pertanyaan kedua
4.      X3 = untuk pertanyaan ketiga
5.      X4 = untuk pertanyaan keempat
6.      X5 = untuk pertanyaan kelima
7.      T (Total) = untuk jumlah X1-X5

Di situ saya memberikan Nilai dari 1-5, agar lebih mudah ketika mengolah data tersebut.
Doc. Pribadi
Kalian bias melihat garis yang melingkar hitam itu di dalamnya adalah data quisioner dari 1-30, berarti semuanya ada 150 data.
Doc. Pribadi
Setelah data terkumpul, lalu kita menjumlahkannya dengan memasukan Rumus
 =SUM(B2;F2) Lalu klik Enter, maka akan kita ketahui jumlah data dari X1-X5. Lalu tarik ke bawah dan akan otomatis menjumlahkannya.
Doc. Pribadi
Gambar di atas itu ada Angka yang di lingkari adalah Jumlah dari data.

Selanjutnya, kita Klik Data—Data Analysist-OK
Seperti gambar yang di lingkari di bawah ini.
Doc. Pribadi
Maka akan Muncul kotak dialog seperti gambar di bawah ini :
Doc. Pribadi


Doc. Pribadi
Lalu kalian Pilih Corelation dan klik Ok
Doc. Pribadi

Setelah itu, maka akan muncul kotak dialog seperti di bawah ini :
Doc. Pribadi
Lalu, masukan Data X1-Total (Angkanya saja) ke dalam Input Range, seperti gambar di bawah ini.
Doc. Pribadi

Setelah semuanya dimasukkan, klik Oke dan akan muncul data yang kita inginkan.

Doc. Pribadi
Kita bias tahu mana data yang Validasi dan yang Tidak Validasi, berarti Colums 5 nilai yang tidak Valid, karena di situ ada -0.25. 

 Kriteria :
Korelasi X1_1 terhadap total : 0,571 > 0,374          : Valid
Korelasi X1_2 terhadap total : 0,440 > 0,374          : Valid
Korelasi X1_3 terhadap total : 0,631 > 0,374          : Valid
Korelasi X1_4 terhadap total : 0,627 > 0,374          : Valid
Korelasi X1_5 terhadap total : 0,302 < 0,374          : Tidak Valid                       

Nah, Mudahkan menghitung data quisioner menggunakan Microsoft Excel, semoga bisa bermanfaat.


Selanjutnya Menghitung Data Quisioner dengan SPSS 16

Setelah menggunakan Microsoft Excel, sekarang kita beralih menggunakan SPSS. Ya, sebuah Aplikasi pengolah data yang sering banyak digunakan oleh para peneliti untuk menghitung Angket (Quisioner) karena sangat mudah digunakan.
Pertama-tama, data yang tadi di Excel harus di Blok dan pindahkan ke SPSS
NB: Data yang di Blok berupa Angkanya saja, jangan di bawa Responden 1-30 dan X1-Total, karena akan merubah proses pengolahan. Nanti kita akan merubahnya di SPSS apabila anda menginginkan ada X1-Total agar bias membedakannya.
Sekarang kita buka Aplikasi SPSS 16 (Bisa jua SPSS 18, 20 dsb) .
Doc. Pribadi
Maka akan Muncul seperti gambar di bawah ini.
Doc. Pribadi
Data yang sudah di Copas di Excel berjumlah 180 data beserta 5 pertanyaan dan jumlah data.
Seperti gambar di bawah ini :
Doc. Pribadi
Kalian bias melihat gambar di atas, X1-Total itu semua ada.
NB: X1-Total, awalnya bernama Variable namun aku sudah mengubahnya.
Oke, kita lanjut ke gambar selanjutnya.
Untuk Mengubah Nama Variable menjadi X1-Total kita klik Variabel View yang paling bawha. Maka akan muncul seperti ini.
Name : Varible  kita ubah menjadi X1.1 = karena kalau tidak menggunakan titik di SPSS 16 tidak akan muncul.
Type : harus tertulis / di pilih Numeric jangan Angka / date dll.
Decimal : itu harus dipilih 0 jangan 1,2/3 dsb. Maka di belakang data angka dua akan terdapat 0 dsb.
Measure harus terpilih scale.
Setelah selesai kita kembali ke data tadi.


Sekarang kita Pilih Analyze, seperti gambar di bawah ini.
Doc. Pribadi

Doc. Pribadi
Pilih Corelate dan Bivariate __ Klik Ok.
Maka akan muncul seperti ini.
Doc. Pribadi
Lalu Blok semua data X1.1 – Total
Doc. Pribadi
Maka akan seperti gambar di bawah ini :


Doc. Pribadi
Data tersebut di pindahkan ke kolom Variable
Lalu Ceklis – Person – On Tailed – Flag dan Klik Ok.
Doc. Pribadi
Maka akan muncul data yang kita inginkan seperti gambar di bawah ini.

Doc. Pribadi
Nah, sekarang kita bias mengetahui data yang Valid dan yang Tidak valid.
Data di Excel dan SPSS yang Valid dan yang tidak juga sama berada di  colums 5/x1.5
Kriteria Pengujian :
—  Korelasi X1_1 terhadap total : 0,571 > 0,374          : Valid
—  Korelasi X1_2 terhadap total : 0,440 > 0,374          : Valid
—  Korelasi X1_3 terhadap total : 0,631 > 0,374          : Valid
—  Korelasi X1_4 terhadap total : 0,627 > 0,374          : Valid
—  Korelasi X1_5 terhadap total : 0,302 < 0,374          : Tidak Valid.
      Atau:
—  Sig. X1_1 terhadap total : 0,002 < 0,05     : Valid
—  Sig. X1_2 terhadap total : 0,008 < 0,05     : Valid
—  Sig. X1_3 terhadap total : 0,000 < 0,05     : Valid
—  Sig. X1_4 terhadap total : 0,000 < 0,05     : Valid
—  Sig. X1_5 terhadap total : 0,052 > 0,05     : Tidak Valid.

Untuk Info lebih lanjut Klik Link ini https://www.youtube.com/watch?v=6lXWtJBXhQw

Monday, January 15, 2018

Metode E-Learning

          Perkembangan teknologi informasi dan komputer yang sangat pesat memberikan pengaruh pada berbagai bidang kehidupan manusia, tidak terkecuali pada bidang pendidikan. Saat ini proses pembelajaran telah banyak memanfaatkan media pembelajaran berbasis elektronik atau yang lebih dikenal sebagai e-learning. Pemanfaatan medial pembelajaran elektronik ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik serta lebih fleksibel tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
Terdapat banyak definisi e-learning, dua di antaranya adalah sebagai berikut :
Menurut Horton (2006) e-learning adalah pemanfaatan teknologi informasi dan komputer untuk membangun pengalaman belajar.
        Menurut Clark dan Meyer (2011) e-learning adalah instruksi yang disampaikan melalui perangkat elektronik digital seperti komputer atau perangkat mobile yang ditujukan untuk menunjang proses pembelajaran.
Banyak metode yang dapat digunakan dalam e-learning (Horton, 2006), beberapa di antaranya adalah :
         Standalone courses yaitu proses pembelajaran yang dilakukan oleh seorang pembelajar tanpa adanya interaksi dengan instruktur ataupun rekan belajar.
Virtual-classroom courses yaitu kelas online yang memiliki struktur seperti ruang kelas. Dapat dilakukan secara sinkron maupun asinkron.
Learning games and simulations yang dilakukan dengan melaksanakan aktivitas simulasi dan permainan yang memerlukan eksplorasi dan diarahkan pada penemuan.
Embedded e-learning yang ditanamkan (embed) pada suatu sistem seperti program komputer, prosedur diagnostik, atau online Help.
             Blended Learning memanfaatkan berbagai metode pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan. Bisa jadi berupa kombinasi aktivitas di ruang kelas dan berbagai bentuk e-learning.
Mobile learning memfasilitasi seorang pembelajar untuk melakukan proses pembelajaran secara mobile, misalnya menggunakan ponsel pintar.
             Knowledge management memadukan penggunaan media e-learning, dokumen online dan media konvensional untuk membantu melakukan proses edukasi bagi orang banyak.
Metode Pembelajaran E-Learning Mulai Diterapkan di Bali bisa di lihat :

https://www.kompas.tv/content/article/18679/video/sapa-indonesia/metode-pembelajaran-e-learning-mulai-diterapkan-di-bali

Thursday, January 11, 2018

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

  Apa itu perkembangan ?
• Perkembangan adalah proses perubahan progresif yang bersifat kualitatif fungsional dan yang       terjadi pada aspek fisik dan psikis. Contohnya :berjalan, berfikir,berimajinasi, dll


 Apa itu pertumbuhan ?
• Pertumbuhan adalah proses perubahan progresif yang bersifat kuantitatif dan yang terjadi pada aspek fisik.Contoh pertumbuhan : munculnya gigi-gigi baru,bertambahnya tinggi badan,dst.

Persamaan pertumbuhan & perkembangan?
• Persamaan pertumbuhan dan perkembangan adalah keduanya merupakan proses perubahan progresif, maksudnya berjalan secara bersamaan. an bersifatmaju, meningkat dan menjadi lebih baik.

Perbedaan pertumbuhan & perkembangan?
1. perubahan adalah Pada pertumbuhan perubahan bersifat kuantitati sedangkan pada perkembangan perubahan bersifatkualitatif fungsional

 2. Aspek yang berubah:Pada pertumbuhan yang berubah adalah aspek fisiksaja, sedangkan pada perkembangan aspek yangberubah adalah aspek fisik dan psikis.

Aspek perkembangan danpertumbuhan
• Aspek Pertumbuhan:Pertumbuhan meliputi aspek fisik besertaotak karena otak berpengaruh         padaperkembangan kognitif anak.
•  Aspek Perkembangan:Perkembangan meliputi perkembanganpsikomotor, perkembangan       kognif,perkembangan social, sertaperkembangan emosi anak.

Hubungan pertumbuhan dan perkembangan
  Ø    Perkembangan tidak terpisahkan daripertumbuhan.
  Ø  Perkembangan terjadi bersamaan atausetelah terjadinya proses pertumbuhan.
  Ø  Perkembangan terjadi dengan baik jikadidukung oleh pertumbuhan yang normal
  
     Prinsip perkembangan danpertumbuhan.
Hurlock(1997;29) menjelaskan bahwa prinsip-prinsip perkembangan tersebutmeliputi:
- Perkembangan melibatkan AdanyaPerubahan. Perkembangan selaluditandai adanya perubahan yang bersifatprogresif yang bertujuan agar manusiadapat menyesuaikan diri dengan tuntutanlingkungan.
- Perkembangan Awal lebih kritis dariPerkembangan selanjutnya. Perkembangan merupakan prosescontinue, dimana perkembangansebelumnya akan mempengaruhiperkembangan selanjutnya. oleh karenaitu kesalahan ataupun gangguan padaperkembangan a)al akan terusmempengaruhi perkembangan-perkembangan berikutnya.
- Perkembangan merupakan hasil Proses kematangan dan belajar. Kematangan merupakan hasil perkembangan melalui tahapan-tahapan yang kompleks dan saling terkait dari tahapan-tahapan awal ke tahapan-tahapan selanjutnya. Perkembangan merupakan hasil belajarmengartikan bah)a perkembangandiperoleh melalui usaha sadar dan latihan.

Pengertian remaja
individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.

Ciri khas perkembangan padaremaja
remaja mengalami perubahan fisik (pertumbuhan) paling pesat,dibandingkan dengan periode perkembangan sebelum maupun sesudahnya.
•  mempunyai energi yang melimpah secarafisik dan psikis yang mendorong mereka untuk berprestasi dan beraktifitas.
• Perhatian mereka lebih terarah kepada teman sebaya dan secara berangsur melepas diri dari keterkaitan dengan keluaga
•  remaja memiliki keterkaitan yang kuat dengan lawan jenis.

g    Ciri khas perkembangan pada remaja.
•Periode idealis
•penunjukan kemandirian.
•berada pada periode transisi antarakehidupan masa kanak-kanak dankehidupan orang de)asa.
•Pencarian identitas diri.

Masalah-masalah remaja
  Ø  upaya merubah sikap dari anak-anak kesikap orang dewasa
  Ø  kesulitan menerima perubahan fisikal
  Ø  kebingungan dengan fungsi seks
  Ø  masalah yang ditimbulkan akibat upayapenyesuaian emosional (over acting, lancang,dll)
  Ø  masalah yang berkaitan dengan norma ataunilai remaja yang tidak sesuai dengan nilai orang tua

 Usaha untuk mencapaiperkembangan dan pertumbuhanpeserta didik
•Pencapaian tugas melalui kelompok teman sebaya
•mencapai kemandirian pribadi
•Pengembangan keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Simpulan
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang dialami oleh remaja secara kontinue. Pertumbuhan dan perkembangan adalah proses yang saling berhubungan tak bisa dilepaskan dari kehidupan remaja. Pertumbuhan adalah Perubahan alamiah secara kuantitatif pada segi jasmaniah / fisik dan menunjukkan kepada suatu fungsi tertentu yang baru dari organisme/indiviidu. sedangkan perkembangan yaitu suatu proses perubahan dalam diri individu yang bersifat kualitatif atau untuk fungsi psikologis yang berlangsung secara terus menerus kearah yang lebih baik.

Sekian dan terimakasih saya ucapkan kepada pembaca maupun yang melihat.
Mohon maaf jika apa yang saya tulis diatas ada salah kata.
Karena saya yang tak luput dari kesalahan........................................



Monday, January 8, 2018

Pendidikan Masa Kini

http://beritakoran.com/2017/10/22/benarkah-kids-zaman-now-adalah-representasi-dari-rusaknya-generasi-masa-kini/        

               Permasalahan pendidikan di Indonesia masa kini sesungguhnya sangat kompleks. Makalah ini dengan segala keterbatasannya, hanya sempat menyoroti beberapa diantaranya yang dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu permasalahan eksternal dan internal. Dalam permasalahan eksternal di bahas masalah globalisasi dan masalah perubahan social sebagai lingkungan pendidikan.
Sedangkan menyangkut permasalahan internal disoroti masalah system kelemahan (dialisme dikotomi), profesionalisme guru, dan strategi pembelajaran. Dari pemahaman terhadap sejumlah permasalahan dimaksud di atas dapat disimpulkan bahwa berbagai permasalahan pendidikan yang komplek itu, baik eksternal maupun internal adalah saling terkait.


          Pendidikan masa kini identik dengan teknologi dan inovasi yang beragam, mulai dari penggunaan buku hingga penggunaan notebook sebagai media tulis untuk pembelajaran, inovasi juga digunakan untuk mengefisiensi waktu dan juga agar seorang pelajar dapat menyerap ilmu yang di ajarkan oleh tenaga pengajar. Pembelajaran masa kini juga berbeda jauh dengan pembelajaran pada zaman dahulu, pembelajaran masa lalu identik dengan ketegasan karna mereka berpikir bahwa jika mengajar dengan tegas maka para siswa akan menerima pelajaran dengan sempurna, sedangkan pada masa masa kini pendidikan di lakukan dengan cara yang lebih santai karna pada masa kini orang-orang berpikir bahwa jika dengan cara yang santai atau dengan cara keakraban maka para siswa akan menerima pelajaran dengan baik.
 Hasil gambar untuk pendidikan masakini
         http://bobandriansambas.blogspot.co.id/2016/11/pendidikan-karakter-antara.html
           
             Pendidikan di Indonesia dipandang masih rendah jika di bandingkan dengan pendidikan negara-negara lain, hal tersebut di buktikan dengan kesadaran para penduduk Indonesia yang lebih mementingkan untuk bekerja secara dini dibandingkan dengan menuntut ilmu untuk masa yang mendatang. Mereka berpikir jika belajar hanya membuang-buang waktu saja, lebih baik bekerja dan mendapatkan uang dari pada belajar membuang-buang waktu dan menghabiskan biaya. Disamping dengan cara berpikir mereka yang seperti itu, kemiskinan juga menjadi faktor dimana seseorang lebih mementingkan untuk mencari uang agar mereka dapat menyambung hidup dibandingkan belajar yang mereka pikir hanya membuang-buang waktu saja.

            Pendidikan masa kini juga berbeda dengan pendidikan masa lalu, pendidikan masa lalu hanya didapat untuk para keluarga bangsawan saja sedangkan pendidikan masa kini bisa di dapat untuk semua keluarga mulai dari menengah hingga bawah. Ketika pendidikan masa kini bebas didapatkan oleh setiap masyarakat malah di wajibkan oleh pemerintah Indonesia, malah masyarakat menengah ke bawah yang menolaknya berbeda dengan masyarakat masa lalu yang ingin sekali atau mendambakan untuk bisa mendapatkan ilmu atau bisa bersekolah.

           Pendidikan di Indonesia masa kini juga di cemari dengan tindakan-tindakan yang kurang pantas dari para tenaga pengajar maupun para instansi-instansi yang terkait, dari mulai pencabulan hingga korupsi dana yang akan di tujukan untuk para pelajar Indonesia. Mereka melakukan hal tersebut dengan berdasarkan ketidak aktifan pengawasan yang harus diperketat agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak akan terjadi kembali. Hal tersebut juga imbas dari pendidikan masa lalu yang kurang memperhatikan akhlak sehingga mereka hanya mendapat ilmu untuk kegiatan sehari-hari tanpa memperhatikan dengan nilai-nilai norma dan agama. Maka dari itu pendidikan masa kini atau kurikulum 2013 di rancang dengan mementingkan akhlak dari pada nilai kognitif dari para siswanya, nilai kognitif dikurikulum 2013 juga tidak di pandang dengan sebelah mata sehingga membentuk para pelajar yang cerdas dan berakhlak mulia.

Demikianlah pendidikan masa kini yang saya tulis, mungkin terdapat beberapa perbedaan dengan pendidikan masa lalu, tetapi pendidikan masa lalu maupun masa kini di tujukan sama yaitu untuk membuat masyarakat lebih cerdas sehingga tidak akan tergerus oleh zaman yang lebih canggih dan maju ini.

"Terimakasih"  Salam Pendidikan..........................................

Jurus Jitu untuk menjadi guru hebat


           Memang tidak semua orang bisa mengembangkan amanah menjadi seorang guru yang hebat dan bener-benar profesional dalam menjalankan tugasnya. sukses tidaknya guru dalam motivasi, menggugah, dan mengubah murid-murid kearah lebih baik tentu niscayakan beragan kompetensi, selain integrasi kepribadian dan kecakapannya dalam mendidik dan mengajar.

Menurut Haryono ada 101 jurus jitu menjadi guru hebat antara lain :
A. Persiapan Sebelum Mengajar
  1. Luruskan Niat Anda
  2. Cintailah profesi anda
  3. Embanlah amanah
  4. Memilki totalitas 
  5. Jangan lupa mempersiapkan diri
  6. Persiapkan fisik anda
  7. catat apa yang anda sampaikan kepada siswa
  8. Persiapkan mental anda
  9. Selalu tingkatkan rasa percaya diri anda
 10. Belajarlah menjadi pendidik yang redah hati
 11. Siapkan perlengkapan mengajar
 12. Sabarlah terhadap proses perkembangan siswa
 13. Optimis akan sukses dalam mengajar
 14. Jangan sering mengeluh
B. Meningkat Kewibawaan dan Kredibilitas
 15. Tambah pengetahuan anda
 16. Tambah pengalaman anda
 17. Katakan tidak tahu jika memang tidak tahu
 18. Jangan terlalu banyak bercanda
 19. Kuasailah teknologi masa kini
 20. Berikan keteladanan
 21. Tunjukkan kesederhanaan 
 22. Hati-hati dengan ucapan anda
 23. Mamfaatkan keterampilam anda
 24. Jaga mau badan anda
 25. Hati-hati dengan bau mulut anda 
 26. Selalu optimis bahwa mereka akan berasil
 27. Jangan mengatakan kelemahan siswa 
 28. Kendalikan amarah dan emosi
 29. Jangan menegur kesalahan siswa  di depan umum
 30. Bersikaplah dengan lembat tetapi tegas
 31. Jadilah pendidik yang penuh dengan kesabaran
C. Menarik Simpati Pelajar
 32. Senyumlah
 33. Jalin sara saling memiliki dan saling pengertian
 34. Hindari perdebatan
 35. Berpenampilan yang menawan
 36. Maafkan kesalah siswa anda
 37. Pandanglah wajah pelajar
 38. Hindari kekerasan
 39. Sering-seringlah memuji siswa
 40. Jangan enggan meminta maaf jika salah
 41. Kasihi dan sayangi siswa
 42. Berikan hadiah kepada siswa
 43. Tempatkan diri anda sebagai sahabat siswa
 44. Jangan segan memberikan  bantuan kepada siswa
 45. Jangan memotong pembicaraan siswa
 46. Tunjukan rasa terimakasih anda
 47. Perbayaklah berkorban secara ikhlas
C. Memahami Siswa
 48. Memiliki kemampuan mengajar
 49. Penuhi kebutuhan siswa
 50. Jangan lupa sentuhan fisik
 51. Berempatilah
 52. Pahamilah gaya belajar siswa
 53. Beri kesempatan anak untuk bertanya
 54. belajar menghargai pendapat siswa
 55. Pahami dunia mereka
D. Menumbuhkan solidaritas dan Kebersamaan
 56. Biasakan berjabat tangan dengan siswa
 57. Biasakan akrab dengan siswa
 58. Anggaplah siswa layaknya anak sendiri
 59. Hafalkan nama setiap siswa
 60. Tanamkan kreativitas pada anak
 61. Kenalilah kepribadian dan karakter siswa anda
 62. Jangan biarkan ada siswa yang terlalu mendominasi
 63. Berikan kesempatan kepada siswa untuk menyatakan kritik
 64. Buatlah siswa merindukan anda
 E. Meningkat Disiplin
 65. Mulailah dari diri sendiri
 66. Jangan bosan menasihati tentang disipli
 67. Jangan sesekali membolos atau mungkir mengajar
 68. Jika tidak hadir, beri tugas kepada siswa
 69. Jangan sering terlambat masuk kelas
 70. Jangan pulang mendahului siswa
 71. Jangan meninggalakn kelas saat pelajaran berlangsung
 72. Buat kesepakatan kelas dan jalankan secara konsisten
 73. Jangan pilih kasih
 74. Jangan enngan menegur kesalahan siswa
 75. jangan merokok di lingkungan sekolah
 76. Jangan biarkan siswa menyontek
F. Kiat Memberikan Tugas
 77. Beri tugas untuk memberi kesempatan berkreasi
 78. Berikan tugas yang menantang dan mengasyikkan
 79. Apresiasikan tugas-tugas mereka
 80. Jangan memberikan tugas terlalu banyak
 81. Koreksilah perkerjaan siswa
 82. Jangan merekayasa nilai
G. Meningkatkan Ruhiah
 83. Bersyukurlah
 84. Buat penilaian harian dan renungkanlah
 85. Berdoalah sebelum mengajar
 86. Dekatkan diri anda pada Allah Swt
 87. Lakukan ibadah dan doa bersama siswa
 88. Sertakan siswa dalam doa
H. Memdimiskan Kelas 
 89. Kuasai keterampilan membuku pelajaran
 90. Miliki kemampuan berkomunikasi
 91. Jangan selalu menguasai kelas dan mononton
 92. Buat jaringan komunikasi (jarkom)
 93. Lakukan rotasi tempat duduk siswa
 94. Jangan biarkan kelas tidak terkendali
 95. Olahraga Bersama siswa
 96. Luangkan waktu untuk rekreasi bersama siswa
 97. Sesekali adakan program perkemahan
 98. Ubah tempat"pertemuan"
 99. lakukan variasi strategi mengajar
100. Lakukan variasi media belajar
101. Libatkan siswa dalam kegiatan anda.


     Jika saat ini kita merasa hanyalah seorang guru biasa saja, bisa jadi kita salah. kita adalah seorang guru yang hebat, jika mengetahui jurus apa saja untuk menjadi seorang guru yang hebat.
semonga adanya tulisan saya ini bisa menginspirasi siapapun yang ingin menemukan makna mengajar, di samping menyegarkan semangat guru dalam mengantarkan murid-muridnya untuk mencapai pretasi yang lebih baik. Aamiin.....................

Saturday, January 6, 2018

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MEKANIKA

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MEKANIKA
TEKNIK  DAN  ELEMEN MESIN  SISWA
KELAS X TEKNIK PEMESINAN A SMK
 BHINNEKA KARYA SURAKARTA
    TAHUN PELAJARAN
 2016/2017

KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION

Salaluddin1, Ranto2, Ngatou Rohman3
Pendidikan Teknik Mesin ,FKIP
Universitas Sebelas Maret


ABSTRAK
Tujuan penelitian ini sebagi berikut : (1) Untuk dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mata pelajaran mekanika teknik dan elemen mesin pada siswa kelas X teknik pemesinan A SMK Bhinneka Karya Surakarta Tahun Pelajaran 2016/2017. (2) Untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran mekanika teknik dan elemen mesin pada siswa kelas X teknik pemesinan A SMK Bhinneka Karya Surakarta Tahun Pelajaran 2016/2017 dengan penerapan model pembelajaran Cooperatif Group Investigation. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dengan tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas X teknik pemesinan A SMK Bhinneka Karya Surakarta, hasil lembar amatan keaktifan dan hasil tes belajar siswa kelas X teknik pemesinan A SMK Bhinneka Karya Surakarta. Analisis data menggunakan analisis data diskriptif komparatif. Prosedur penelitian ini terdiri dari empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus  berulang. Hasil penelitian dapat diperoleh sebagai berikut : (1) siswa yang aktif sesuai kiteria keaktifan belajar pada pra-siklus sebesar 45,4%, pada siklus I siswa yang aktif sesuai kiteria leaktifan belajar mencapai 64,7%, siklus II siswa yang aktif sesuai kiteria keaktifan belajar mencapai 82,3%. Penerapan model pembelajaran Cooperatif Group Iinvestigation, juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebagai berikut : (2) siswa yang nilainya memenuhi kriteria ketuntasan minimum (KKM)  pada pra-siklus mencapai 42,1%, Siklus I siswa yang nilainya memenuhi kriteria  ketuntasan minimum (KKM) sebesar 62,1%, Siklus II siswa yang nilainya memenuhi kriteria  ketuntasan minimum (KKM) sebesar 84%.

Kata kunci : Cooperatif Group Investigation, keaktifan siswa, hasil belajar.






1.        Pendahuluan
Pendidikan pada perkembangan saat ini adalah hal yang penting untuk  didapatkan sebagai bekal dalam hidup. Pendidikan mengubah semua paradigma lama dengan berdasarkan pengetahuan baru ditemukan. Pemikiran dahulu mungkin dianggap bener saat ini bisa dianggap salah karena adanya perkembangan pengetahuan, dimana hal tersebut didapatkan dari proses pendidikan panjang yang dialami seorang manusia sehingga muncullah pengetahuan baru tersebut. UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 pasal 1 dinyatakan bahwa: pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar perseta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Tujuan awal yang harus diingat adalah pendidikan bukan berlomba menghafal materi sebanyak mungkin, namun pendidikan adalah sebuah proses yang dijalani para siswa untuk pempunyai sebuah keahlian atau kompotensi yang diinginkannya untuk bekal kehidupannya dan masa yang akan datang, dalam Dikmenjur (2003) mengenai pendidikan didalam Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) salah satu tujuan penyelenggaraan pendidikan adalah menyiapkan peserta didik agar dapat bekerja, baik secara mandiri atau mengisi lapangan pekerjaan yang ada didunia usaha dan industri sebagai tenaga kerja tingat menengah sesuai dengan bidang dan program keahlian yang diminati.
Sekolah adalah ujung tombak proses pendidik di indonesia dalam praktik pembelajaran di kelas masih berfokus pada guru pada sumber utama pengetauan, mungkin metode ceramah menjadi cara yang paling sering digunakan dalam kegiatan mengajar lebih memperlihatkan bahwa guru menjadi pusat dalam pembelajaran di kelas. Para siswa dipaksa menghafal setiap materi yang diajarkan, padahal kemampuan setiap siswa berbeda-beda.
Permasalahan ini juga terjadi pada proses pembelajaran di SMK Bhinneka Karya Surakarta. Saat kegiatan Pra-PPL pada semester 1 Tahun Pelajaran 2016 di SMK Bhinneka Karya Surakarta, guru menjadi pusat pembelajaran. Proses pembelajaran yang dirasakan siswa begitu membosankan. Siswa dituntut memiliki kemampuan yang bagus dan sama mengenai materi yang diajarkan oleh guru. Permasalahan tersebut mengakibatkan sikap para siswa yang merasa sudah susah mengikuti materi pembelajara, menjadi tidak aktif dalam proses pembelajaran dikelas sehingga berakibat hasil belajar siswa kurang optimal.
Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan sebuah strategi belajar mengajar yang berbeda untuk diterapkan kepada siswa. Strategi belajar mengajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal, tetapi sebuah strategi pembelajaran yang mendorong siswa merangsang pikiran mereka untuk mendapatkan pengetahuan baru, terdapat berbagai alternatif model pembelajaran yang bisa digunakan dan memiliki model pembelajaran cooperatif group investigation (GI) sebagai salah satu strategi alternatif yang diharapkan dapat membantu siswa merangsang pikiran mereka sendiri, meningkat kemampuan siswa bekerja sama dengan orang lain, meningkatkan keaktifan belajar, rasa ingin tau siswa terhadap pembelajaran dan pada saat yang sama meningkatkan hasil belajar siswa.
Dalam penelitian ini peneliti mencoba mengkaji penerapan model pembelajaran cooperatif Group Investigation (GI) dalam proses pembalajaran. Group Investigation adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Model pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan dalam suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan.
Melalui penerapan model pembelajaran Cooperatif Group Investigation (GI), penelitian bertujuan untuk :
1.       Meningkatkan keaktifan proses belajar belajar mekanika teknik dan elemen mesin siswa kelas X Teknik Pemesinan A  SMK Bhinneka Karya Surakarta Tahun Pelajaran 2016/2017 dengan penerapan model pembelajaran kooperatif group investigation (GI).
2.       Meningkatkan hasil belajar belajar mekanika teknik dan elemen mesin siswa kelas X Teknik Pemesinan A SMK Bhinneka Karya Surakarta Tahun Pelajarn 2016/2017 dengan penerapan model pembelajaran kooperatif group investigation (GI).

2.        Metode  
Penelitian merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research ini dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bhinneka Karya Surakarta, pada semester genap pada tahun pelajaran 2016/2017.
2.1 Metode Pengumpulan Data
Pemecahkan masalah dalam penelitian diperlukan data yang relevan dengan permasalahannya, sedangkan untuk mendapatkan data tersebut perlu digunakan teknik pengumpulan data sehingga dapat diperoleh data yang benar-benar valid dan dapat dipercaya. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain dengan menggunakan:
a.       Dokumentasi
Teknik dokumentasi yaitu mengumpulkan berbagai dokumen atau arsip yang ada seperti silabus, rencana pembelajaran yang dibuat guru, buku atau materi pelajaran, serta nilai ulangan harian pada materi wujud zat sebagai bahan pertimbangan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.
b.       Observasi
Observasi dilakukan sebelum, selama dan sesudah siklus penelitian berlangsung. untuk mengamati pelaksanaan dan perkembangan pembelajaran mekanika teknik yang dilakukan oleh guru dan siswa meliputi keadaan pembelajaran sebelum diterapkan model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI), keadaan saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dan keadaan pembelajaran setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI). Jenis observasi yang dilakukan adalah observasi partisipan, artinya peneliti ikut terlibat dalam proses pembelajaran (tindakan).
c.        Tes
Tes merupakan alat yang digunakan penelitian untuk mengetahui hasil dari penelitian yang telas dilakukan. Tes dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh hasil belajar yang telah diperoleh siswa setelah kegiatan pemberian tindakan.

2.2    Metode Analisis Data
Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif. Analisis dideskriptif komparatif untuk mengelola data, nilai yang berupa keaktifan dan peningkatan hasil belajar yang dianalisis dengan pencapaian nilai tes, hal ini dimaksudkan bahwa siswa dikatakan mampu menguasai mata pelajaran secara maksimal atau dengan kata lain prestasi belajar diatas KKM.
Analisis diskripstif komparatif dilakukan dengan membandingkan antar kondisi awal sebelum dilakukannya tindakan dengan hasil yang diperoleh pada siklus I dan siklus II, sehingga dapat dilihat adanya perbedaan sebelum dan sesudah.

3.      Hasil Penelitian Dan Pembahasan
3.1.   Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) berpengaruh terhadap keaktifan siswa kelas X Teknik Pemesinan A SMK Bhinneka Karya Surakarta yang dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 1: Persentase Keaktifan Siswa Tiap Siklus.

Siklus
Aktif %
Tidak Aktif %
Pra-Siklus
45,4
54,6
Siklus I
64,7
35,3
Siklus II
82,3
17,7

Rerata kenaikan keaktifan siswa dapat dilihat pada histogram berikut :
Gambar 1. Rerata Keaktifan Siswa
Histogram di atas menunjukan bahwa keaktifan siswa dan kondisi pra-siklus, siklus I, dan siklus II mengalami peningkatan. Pada siklus I nilai keaktifan naik 19,3% yaitu dari 45,4% menjadi 64,7%. Pada siklus II nilai rerata naik 17,6% yaitu dari 64,7% menjadi 82,3%.
Penerapan model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) juga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas X teknik pemesinan A SMK Bhinneka Karya Surakarta yang dapat dilihat pada table sebagai berikut :

Tabel 2:Persentase hasil Belajar Siswa pada Tiap Siklus
Siklus
Tuntas %
Tidak Tuntas %
Pra-Siklus
42,1
57,9
Siklus I
62,1
37,9
Siklus II
84
16


Berdasarkan  table diatas dapat diketahui bahwa penerapan model pelajaran  kooperatif Group Investigation (GI) dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.
Peningkatan rerata hasil belajar tersebut ditunjukan pada histogram sebagai berikut :     
                                                                             Gambar 2. Persentase Hasil Belajar Siswa
Dari kondisi awal 42,1%, pada siklus I ketuntasan naik menjadi 62,1% dan siklus II ketuntasan naik menjadi 84% pada siklus II. Indikator keberhasilan direfleksikan 80% siswa memperoleh hasil belajar >70. Dengan melihat ketuntasan belajar maka hasil dari siklus I dan siklus II telah mencapai indikator tersebut. Dengan demikian model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) pada mata pelajaran mekanika teknik dan elemen mesin dapat meningkat hasil belajar siswa dari kondisi awal ketuntasan 42,1% menjadi 84% pada kondisi akhir.
3.2.   Pembahasan
Data pra-siklus, siklus I dan siklus II yang telah didapatkan kemudian dibahas sejauh mana keberhasilan pemberikan tindakan kelas yang telah dilakukan pada kelas X Teknik Pemesinan A SMK Bhinnekan Karya Surakarta, pembahasan awal yang peneliti temui saat pra-siklus adalah kurangnya keaktifan dari siswa dan hasil belajar yang siswa capai. Siswa cenderung tidak memperhatikan proses pembelajaran yang sedang berlangsung dikelas dan berakibat pada hasil belajar mereka banyak belum tuntas.
Peneliti kemudian berdiskusi dengan guru mengenai permasalahan tersebut untuk mencari solusi mengatasinya, Hasil diskusi tersebut adalah untuk mengatasi masalah yang terjadi perlu digunakan model pembelajaran yang baru yang mampu mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran dan hasil belajar dari siswa meningkat, Guru sepakat menggunakan model pembelajaran Cooperatif Group Investigation dalam proses pembelajaran sebelumnya.
Peneliti menyusun rancangan proses pembelajaran untuk digunakan pada pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II, Tindakan siklus I adalah langkah awal yang dilakukan untuk mengatasi masalah pembelajaran yang terjadi dengan model Cooperatif Group Investigation. Hasil dari siklus I adalah masih adanya siswa yang belum aktif dalam proses pembelajaran dan hasil belajar dari siswa banyak belum tuntas. Kekurangan dari tindakan siklus I adalah : (1) siswa meninggalkan kelas saat pengatian jam pelajaran dan terlambat masuk kelas pada jam berikutnya, (2) siswa masih belum bersemangat dalam mengikuti diskusi kelompok dan memperhatikan presentasi dari kelompok lain.
Pemberian tindakan siklus II kemudian juga mempertimbangakan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. Peneliti dan Guru kemudian berdiskusi untuk mencari solusi hal tersebut agar pada pemberian tindakan siklus II berhasil. Hasil dari diskusi tersebut adalah (1) Peneliti datang ke kelas saat jam pelajaran kedua hampir habis dan saat guru pelajaran jam sebelumnya keluar, peneliti telah ada didalam kelas dan siswa tindak keluar (2) peneliti lebih mendorong siwa untuk aktif dalam berdiskusi dengan teman kelompok dan memperhatikan presentasi dari kelompok lain.
Peneliti  telah mampu mengatasi permasalah yang dihadapi dan telah mampu menerapakan model Cooperatif Group Investigation dengan baik pada mata pelajaran mekanika teknik dan elemen mesin pada pemberian tindakan siklus II. Penggunaan model pembelajaran Cooperatif Group Investigation telah terbukti dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dengan mata pelajaran mekanika teknik dan elemen mesin pada siswa kelas X teknik pemesinan A SMK Bhinneka Karya Surakarta.
Kondisi belajar lebih menarik siswa menjadi bersemangat dan tidak membuat siswa cepat merasa jenuh, Keaktifan siswa dapat meningkat kemudian diikuti dengan hasil belajar siswa juga meningkat, Nilai ulangan siswa menjadi baik dan lebih dari 80% siswa nilainya tuntas diatas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Penggunaan model pembelajaran Cooperatif Group Investigation terbukti lebih baik dari pada model pembelajaran ceramah. Siswa lebih cepat memahami materi yang diberikan oleh guru. Model ini membuat pemahaman terhadap materi yang diberikan secara mendalam, hal ini dibuktikan dalam keaktifan belajar siswa meningkat sehingga pembelajaran lebih menarik, siswa merasa tertarik dan bersemangat dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Indikator keaktifan setelah dilakukan pengamatan sudah mencapai target dan hasil  belajar pada siklus ini hasilnya lebih baik dari siklus sebelumnya dan dapat mencapai target yang sudah ditentukan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berhenti pada siklus II ini, karena target sudah tercapai dan sesuai dengan rencana dari awal.

4.      Kesimpulan  
Berdasarkan dari hasil tindakan dan pembahasan pada penerapan model pembelajaran Cooperatif Group Investigation dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.       Penerapan Model Pembelajaran Cooperatif Group Investigation terbukti dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas X teknik pemesinan A SMK Bhinneka Karya Surakarta pada mata pelajaran mekanika teknik dan elemen mesin pada Tahun Pelajaran 2016/2017. Pada kondisi pra-siklus siswa yang dikatagorikan aktif sebesar 45,4%, pada siklus I sebesar 64,7%  dan siklus II sebesar 82,3% siswa yang aktif.
2.       Penerapan Model Pembelajaran Cooperatif Group Investigation terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa siswa kelas X teknik pemesinan A SMK Bhinneka Karya Surakarta pada mata pelajaran mekanika teknik dan elemen mesin pada Tahun Pelajaran 2016/2017. Pada kondisi pra-siklus sebanyak 42,1% siswa yang tuntas, siklus I sebanyak 62,1% dan siklus II 84,0%  siswa yang tuntas.

Ucapan Terima Kasih
Dengan rasa syukur atas kehadirat ALLAH SWT, ucapan terima kasih ini saya untuk :
Ø  Ibu tercinta yang senantiasa memberikan kasih sayang dan dukungan dalam menulis karya ilmiah saya.
Ø  FKIP Universitas Sebelas Maret, almameter tercinta, tempatku menimba ilmu dan memperkaya pengetahuan.
Ø  Terimakasih atas segala ilmu dan bimbinganya yang diberikan dosen-dosen di Program Studi Pendidikan Teknik Mesin UNS.
Ø  kepada Keluarga besar SMK Bhinneka Karya Surakarta, yang telah mengijinkan dan membantu  penulis dalam penelitian karya ilmiah saya.
Ø  Terimakasih kepada teman-teman yang saya sayangi.



Daftar Pustaka
Arikunto,S.(2012). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Bumi Aksara.
Aqib Zainal. (2013). Model-Model, Media, dan Strategi pembelajaran Kontektual (Inovatif).Bandung:Yrama Widya.
Sardiman. (2004). Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta Rajawali Press.
Sardiman. (2008). Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta Rajawali Press.
Sardiman. (2011). Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta Rajawali Press.
Slavin E Robert. (2008). Cooperatif Learning Teori, Riset, dan Praktik. Bandung: Nusa Media.
Sudjana,N. (2008). Penilaian Hasil Proses Belajar. Bandung: PT. Remaja.
Sudjan.N. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sugiyanto.(2009). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Mata Padi Presindo.
Undang-Undang RI No. 20 Tahun. 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.









Motivasi Bangun Subuh

 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh  Jum'at 16 Mei 2025 saya mengecek peserta didik hampir 100% peserta didik tidak sholat subuh...